Sekali Peristiwa Di Banten Selatan : Bung Pram [Pramoedya Ananta Toer]

Semasa pulang dari jakarta ahad lalu, saya sempat menghabiskan buku karangan Bung Pram, Sekali Peristiwa Di Banten Selatan. Buku ini mengisahkan penelitian singkat Pram ke wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah subur tapi masyarakat miskin, kerdil, tidak berdaya, lumpuh daya kerjanya. Mereka dihisap sedemikian rupa dan dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang memiskinkan.

Tubuh boleh ditendang dan dinjak-injak tapi semangat hidup tak boleh pudar. Semangat hidup itulah yang membuat sseorang bisa hidup dan terus bekerja. Bertolak dari situ Pram bertekad kuat mengorbankan semangat untuk tidak “ongkang-ongkang” kaki menanti ajal lumat.

Pram menulis : “Kau belum banyak makan garam, Djali. Dengar. Aku sudah pernah lihat Palembang, Surabaya, Jakarta, Bandung. Di mana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan ? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk jadi benar…

Sebuah keyakinan yang meneguhkan. Sebuah modal hidup yang melahirkan keberanian bersikap. Ayuh MP BN yang masih was-was tunggu apa lagi !

Pengarang: Shamsul Iskandar

Ahli Parlimen Bukit Katil, Melaka Ketua Angkatan Muda KEADILAN (AMK), Parti KEADILAN Rakyat (PKR) Pengerusi KEADILAN Majlis Pimpinan Negeri Melaka Peguam, Yusof Rahmat & co, Ketua KeADILan Cabang Jasin, Melaka

2 thoughts on “Sekali Peristiwa Di Banten Selatan : Bung Pram [Pramoedya Ananta Toer]”

  1. Ini buktinya.musuh bang pram pak harto akhirnya tumbang juga pada 1998 dan buku2nya
    masih dapat dijadikan inpirasi bahwa sesuatu yang otoriter harus dihapus agar generasi yang akan datang dapat menikmati artinya hidup sebagai rakyat yang berdaulat.

  2. Barangkali deme sudah pun baca buku Pram sebelum tuan baca dulu, sebab tu deme gi Taiwan. Jadi, bila deme balik dari sana deme boleh kata, “Kalau belum pernah lihat aktiviti pertanian di Taiwan, Shamsul.Dengar. Aku sudah pernah lihat Taipei, Kaohsiung, Penghu. Di mana-mana aku selalu dengar: Yang tidak benar juga boleh menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi sampai bila? Kebenaran tidak boleh datang dari kerajaan langit (dewa), dia mesti diperjuangkan oleh kerajaan bumi (rakyat/hamba) untuk jadi benar…“

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s